Etika Algoritma dan Kosmologi Islam: Menakar Masa Depan Kemanusiaan di Era Kecerdasan Artifisial
Abstract
Perkembangan kecerdasan artifisial telah menggeser fungsi algoritma dari sekadar instrumen komputasional menjadi mekanisme yang memengaruhi produksi pengetahuan, pengambilan keputusan, dan pembentukan realitas sosial. Pergeseran tersebut berlangsung dalam paradigma sekuler-mekanistik yang cenderung mereduksi manusia menjadi entitas komputasional sehingga mengancam agensi moral dan dimensi spiritualnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji persoalan tersebut melalui perspektif kosmologi Islam sebagai kerangka metafisis untuk mereposisi hubungan antara manusia, teknologi, dan tatanan keberadaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan yang dianalisis melalui metode deskriptif-analitis dan pendekatan filosofis-hermeneutis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan artifisial secara ontologis berada pada tingkat instrumental dalam hierarki marātib al-wujūd sebagai artificial configuration yang bergantung pada kreativitas dan tanggung jawab manusia. Berbeda dengan 'aql yang terhubung dengan ruh dan qalb, AI hanya merepresentasikan rasionalitas kalkulatif tanpa kesadaran spiritual. Penelitian ini merumuskan etika profetik berbasis amanah, kemaslahatan, dan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai fondasi normatif bagi pengembangan teknologi yang menjaga kedaulatan manusia serta mengarahkan transformasi digital menuju terwujudnya Insan Kamil tanpa terjebak pada teknofobia maupun teknofilia.


